Tampilkan postingan dengan label Kelas 8. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelas 8. Tampilkan semua postingan

Yang Ariya Kisa Gotami Theri

Orang yang pikirannya melekat pada anak-anak dan ternak peliharaannya, maka kematian akan menyeret dan menghanyutkannya, seperti banjir besar menghanyutkan sebuah desa yang tertidur.

Kisa Gotami adalah seorang gadis dari sebuah keluarga miskin di kota Savatthi. Nama sebenarnya adalah "Gotami". Tetapi karena tubuhnya yang kurus maka dia dipanggil "Kisa". Setiap orang yang melihat Kisa Gotami berjalan, dengan badannya yang tinggi dan kurus, tak seorang pun dapat melihat kebaikan yang ada di dalam dirinya.

Yang Ariya Khema Theri

Seseorang yang pengetahuannya dalam, pandai, dan terlatih dalam membedakan jalan yang benar dan salah, yang telah mencapai tujuan tertinggi, maka ia Kusebut seorang "Brahmana " Khema berasal dari keluarga yang berkuasa di Desa Sagala Magadha. Ia sangat cantik, kulitnya berwarna kuning keemasan. Kecantikan Khema tersebut membuat Raja Bimbisara meminang Khema dan menjadikannya sebagai permaisuri.

Yang Ariya Maha Pajapati Gotami Theri

Seseorang yang tidak lagi berbuat jahat melalui badan, ucapan, dan pikiran serta dapat mengendalikan diri dalam 3 saluran perbuatan ini, maka ia Kusebut seorang "Brahmana"

Maha Pajapati Gotami, yang terkenal sebagai salah satu pembentuk Sangha Bhikkhuni, berasal dari suku Koliya. Pada waktu Maha Pajapati Gotami dilahirkan, seorang peramal meramalkan bahwa jika besar nanti ia akan menjadi pemimpin dari suatu perkumpulan yang mempunyai banyak pengikut. Oleh karena itu ia diberi nama "Pajapati", yang berarti pemimpin suatu perkumpulan besar, sedangkan "Maha" merupakan suatu awalan yang berarti luar biasa.

YANG ARIYA UPALI

Terkemuka dalam Menjaga Sila Enam
Bangsawan muda Sakya yaitu Ananda, Anuruddha, Bhaddiya, Bhagu, Devadatta dan Kimbila memutuskan bersama untuk menjadi siswa Sang Buddha. Ketika mereka meninggalkan Kapilavatthu, ibu kota kerajaan Sakya, mereka diiringi dengan rombongan besar kereta, gajah dan sejumiah pelayan untuk melayani mereka dalam perjalanan. Di perbatasan antara kerajaan Sakya dan kerajaan Magadha, mereka mengirim seluruh kereta kembali ke Kaplivatthu, dan yang tinggal bersama mereka hanyalah Upali, tukang cukur mereka.

Yang Ariya Anuruddha

Terkemuka dalam Mata Dewa
Sesaat sebelum mencapai Parinibbana, Sang Buddha menyampaikan kata-kata terakhir Beliau, "O Bhikkhu dengarkanlah baik-baik nasihatku : Segala sesuatu yang terdiri atas paduan unsur-unsur akan hancur kembali. Karena itu berjuanglah dengan sungguh-sungguh". Setelah itu Sang Buddha memasuki Jhana kesatu, lalu Jhana kedua, ketiga, keempat. Kemudian memasuki keadaan 'Ruang Tak Terbatas', kemudian 'Kesadaran Terbatas', keadaan 'Kosong', keadaan 'Bukan Pencerapan pun Bukan Pencerapan' kemudian mencapai 'Penghentian Pencerapan dan Perasaan'.

Yang Ariya Rahula

Terkemuka dalam Kebaikan
Pada hari ketujuh setelah Sang Buddha kembali ke Kapilavatthu, Puteri Yasodhara mendandani Pangeran Rahula dengan pakaian yang bagus dan mengajaknya kejendela. Dari jendela itu mereka dapat melihat Sang Buddha sedang makan siang. Puteri Yasodara kemudian bertanya kepada Rahula, "Anakku, tahukah engkau siapa orang itu?" Rahulu menajwab, "Beliau adalah Sang Buddha, ibu". Yasodhara tak dapat menahan air matanya yang menitik keluar dan berkata, "Anakku, petapa yang kulitnya kuning keemasan dan tampak seperti Brahma dikelilingi oleh ribuan muridnya adalah ayahmu. Beliau punya banyak harta pusaka. Pergilah kepadanya dan mintalah Harta pusaka untukmu". Pangeran Rahula yang masih kecil itu kemudian pergi mendekati Sang Buddha dan sambil memegang jari tangan Sang Buddha mengatakan apa yang dipesankan ibunya. Kemudian ia menambahkan "Ayah, bahkan bayangan ayah membuat hatiku senang".

Yang Ariya Ananda

Pembantu Tetap Sang Buddha dan Bendahara Dhamma

Pada suatu ketika dalam suatu pertemuan para bhikkhu di Rajagaha, Sang Buddha yang saat itu berusia lima puluh lima tahun menyinggung tentang perlunya ditunjuk seorang pembantu tetap untuk diriNya. Semua siswa utama seperti YA Sariputta dan YA Moggallana menawarkan diri untuk menjadi pembantu tetap namun semuanya ditolak oleh Sang Buddha. Para bhikkhu kemudian menganjurkan Ananda yang selama itu berdiam diri saja untuk memohon kepada Sang Buddha untuk dapat diterima sebagai pembantu tetap. Ananda mengatakan, "Kalau Sang Bhagava memang memerlukan Ananda sebagai Pembantu Tetap, Sang Bhagava boleh mengatakannya". Kemudian Sang Buddha berkata, "Ananda, jangan membiarkan orang lain menganjurkan engkau untuk memohon pekerjaan tersebut. Atas kemauan sendiri engkau dapat menjadi Pembantu Tetap Sang Buddha".

YA. MOGALLANA

Terkemuka dalam Kekuatan Gaib

Setelah memperoleh kekuatan gaib setelah berlatih dengan tekun di bawah bimbingan Sang Buddha, YA Moggallana menggunakan kekuatannya itu untuk mencari di mana ibunya terlahir kembali dan mencoba untuk membalas budi kepada ibu yang mengasuhnya hingga dewasa. Setelah menyelidiki, ditemukanlah bahwa ibunya terlahir kembali di alam neraka dan amat menderita. Melihat hal itu, YA Moggallana segera menggunakan kekuatan gaibnya mengirimkan makanan kepada ibunya. Tetapi pada saat ibunya mencoba memasukkan makanan ke mulutnya, makanan itu terbakar menjadi nyala api dan menyebabkan penderitaan yang lebih hebat dari sebelumnya.

YANG ARIYA SARIPUTTA

Terkemuka dalam Kebijaksanaan

Pada suatu pagi Sariputta melihat YA Assaji, salah seorang bhikkhu siswa pertama Sang Buddha sedang menerima dana makanan di Rajagaha. Ia sangat terkesan melihat penampilan YA Assaji yang damai dan agung. Ia berpikir bahwa pastilah bhikkhu itu telah mencapai arahat. Ketika YA Assaji selesai makan, ia mendekati dan memberi salam untuk kemudian bertanya siapakah guru beliau dan ajaran apakah yang diajarkan oleh gurunya itu. YA Assaji memberi tahukan bahwa gurunya adalah Sang Buddha Gotama dan bahwa beliau tidak dapat menerangkan ajaran tersebut secara panjang lebar karena belum lama menjadi bhikkhu tetapi dapat menjelaskan artinya secara singkat. Kemudian beliau mengucapkan syair berikut:

TEMPAT-TEMPAT ZIARAH AGAMA BUDDHA


Dalam Mahaparibnibbana Sutta (khotbah saat-saat terakhir Sang Buddha) Sang Buddha bersabda “Ananda ada empat tempat bagi seorang berbakti seharusnya pergi berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat. Bagi mereka yang dengan keyakinan yang kuat melakukan ziarah ketempat-tempat suci, maka setelah meninggal dunia mereka akan terlahir kembali di alam surga. Berziarah ketempat-tempat suci agama Buddha disebut Dharmayatra.
       Ada empat tempat suci bagi agama Buddha yaitu:
1.      Taman Lumbini
2.      Buddhagaya
3.      Taman Rusa Isipatana
4.      Kusinara


TOKOH PEJUANG PENYIARAN AGAMA BUDDHA


 Riwayat Bhikkhu Ashin Jinarakkhita

Bhante Ashin Jinarakkhita lahir di Bogor pada tahun 1923 dan menjadi putra Indonesia pertama yang menjadi seorang b
hikkhu sejak berakhirnya era Majapahit yang menjadi pelopor tumbuh kembangnya kembali agama Buddha di Indonesia terutama di bidang spiritual. Dengan cara menggali kembali nilai-nilai warisan leluhur bangsa Indonesia.

TEMPAT-TEMPAT BERDHARMAYATRA

PAHALA BERDHARMAYATRA

1.             Pahala yang didapat dari berdharmayatra sangat besar sekali. Karena berdharmayatra dengan disertai niat dan kemauan yang tulus  akan membantu dan menentukan kelahiran kita dialam yang penuh dengan kebahagiaan (terlahir disurga)

2.             Dalam Mahaparinibbana Sutta Sang Buddha menjelaskan dharmayatra kepada Ananda, sebagai berikut:  “ Ananda, bagi mereka yang dengan keyakinan kuat melakukan ziarah ke tempat-tempat yang ada hubungannya dengan dhamma, maka setelah meninggal dunia, mereka akan terlahir kembali di alam surga”.

3.             Ketika kita berada di tempat dharmayatra sebaiknya kita merenungkan sifat luhur dari Sang Buddha dan kita berusaha melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
  

DHARMAYATRA


1.             Dharmayatra terdiri dari dari dua kata yaitu dhamma dan yatra. Dhamma artinya kebenaran, ajaran, suci, sedangkan Yatra artinya ditempat mana. Jadi Dhammayatra artinya berziarah ditepat-tempat suci.
2.             Dharmayatra muncul pada abad ke III ketika Raja Asoka berkuasa di Jambudipa. Dalam Kitab Mahavastu dan Asokavadana  dikisahkan di ibukota Jambudipa yaitu pataliputta berkuasa seorang Raja bernama Bindusara.
3.             Raja memiliki banyak permaisuri dan 100 orang anak. Salah satu anak tersebut bernama Asoka yang memiliki penampilan, kekuatan yang luar biasa melampaui saudaranya.

SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA BUDDHA DI INDONESIA

A.  SRIWIJAYA


  1. Kerajaan Sriwijaya sekarang diperkirakan terletak disekitar kota Palembang, Sumatra selatan
  2. Kerajaan ini didirikan sekitar abad ke VII, para Raja di kerajaan ini umumnya menganut agama Buddha, hal ini dapat dilihat dari catatan bahwa di ibukota terdapat Perguruan Tinggi agama Buddha.
  3. Di Perguruan tinggi ini banyak bhikkhu yang belajar agama dan ilmu pengetahuan lainnya.
  4. Di Kerajaan ini tinggal seorang pujangga yang sangat terkenal yaitu Dharmapala dan sakyakirti yang sempat belajar di Perguruan tinggi ini.
  5. Agama Buddha di Sriwijaya juga diberitakan oleh seorang pemuda dari daratan China bernama Itsing.

Dharmayatra

A.      Arti Dharmayatra

1.        Dharmayatra terdiri dari dari dua kata yaitu dhamma dan yatra. Dhamma artinya kebenaran, ajaran, suci, sedangkan Yatra artinya ditempat mana. Jadi Dhammayatra artinya berziarah ditepat-tempat suci.
 2.        Dharmayatra muncul pada abad ke III ketika Raja Asoka berkuasa di Jambudipa. Dalam Kitab Mahavastu dan Asokavadana  dikisahkan di ibukota Jambudipa yaitu pataliputta berkuasa seorang Raja bernama Bindusara.
 3.        Raja memiliki banyak permaisuri dan 100 orang anak. Salah satu anak tersebut bernama Asoka yang memiliki penampilan, kekuatan yang luar biasa melampaui saudaranya.

SOAL PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA SMP ULANGAN AKHIR SEMESTER SATU

Bagi siswa atau Ibu/Bapak guru yang membutuhkan Soal Pendidikan Agama Buddha SMP
Kelas Tujuh, Delapan, dan Sembilan.
Silahkan download dan klik di SINI

SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA BUDDHA DI INDONESIA

A. SRIWIJAYA 1. Kerajaan Sriwijaya sekarang diperkirakan terletak disekitar kota Palembang, Sumatra selatan 2. Kerajaan ini didirikan sekitar abad ke VII, para Raja di kerajaan ini umumnya menganut agama Buddha, hal ini dapat dilihat dari catatan bahwa di ibukota terdapat Perguruan Tinggi agama Buddha. 3. Di Perguruan tinggi ini banyak bhikkhu yang belajar agama dan ilmu pengetahuan lainnya. 4. Di Kerajaan ini tinggal seorang pujangga yang sangat terkenal yaitu Dharmapala dan sakyakirti yang sempat belajar di Perguruan tinggi ini. 5. Agama Buddha di Sriwijaya juga diberitakan oleh seorang pemuda dari daratan China bernama Itsing. 6. Itsing datang ke Sriwijaya pada tahun 671, setelah ia berziarah ke India. Itsing tinggal di sriwijaya selama 6 bulan sebelum ia kembali lagi ke India. 7. Untuk kedua kalinya Itsing datang kembali ke Sriwijaya pada tahun 688 dan menetap selama 7 tahun. 8. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Itsing para bhikkhu yang belajar berjumlah 1.000 orang.

TEKAD DAN SEMANGAT PANGERAN SIDDHARTA UNTUK MENJADI BUDDHA


Pangeran Siddharta adalah putra tunggal Raja Suddhodana dan Ratu Mahamaya Dewi. Ratu Mahamaya meninggal dunia ketika anaknya berusia  1 minggu atau  7 hari, lalu Pangeran Siddharta diasuh dan dibesarkan oleh bibinya yang bernama Pajapati Gotami. Sekalipun Pangeran Siddharta merupakan putra tunggal, ia tidak sombong dan tidak tinggi hati, Ia adalah anak  yang sangat baik dan selalu berendah hati kepada siapa saja. Pangeran Siddharta sejak kecil memiliki cinta kasih dan belas kasihan yang tinggi terhadap semua makhluk.  Contohnya : P. Siddharta menolong burung belibis yang dipanah oleh Dewadatta, setelah diobati burung tersebut dilepas kembali.

MASA PEMBABARAN DHAMMA SANG BUDDHA

1.        Setelah mencapai penerangan sempurna, untuk pertama kalinya Sang Buddha membabarkan dhamma kepada lima orang pertapa yaitu Kondanna, Mahanama, Bhadiya, Vappa, Assaji.

2.        Sang Buddha membabarkan dhamma atas permintaan Brahma Sahampati, karena mengetahui bahwa Sang Buddha ragu ada makhluk yang mampu atau tidak untuk mendengarkan dhammanya mengingat bahasa yang digunakan terlalu analitis.