Tampilkan postingan dengan label Kelas 9. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelas 9. Tampilkan semua postingan

PERANAN AGAMA BUDDHA UNTUK MEMELIHARA PERDAMAIAN

Pada dasarnya, menurut ajaran Budha, prinsip-prinsip etika dan moral diatur dengan memeriksa apakah suatu tindakan tertentu, apakah terhubung ke tubuh atau pidato yang mungkin membahayakan diri sendiri atau untuk orang lain dan dengan demikian menghindari tindakan yang mungkin berbahaya. Dalam Buddhisme, ada banyak pembicaraan dari pikiran yang terampil. Batin yang terampil menghindari tindakan yang mungkin menyebabkan penderitaan atau penyesalan.

Buddhisme dan Hak Asasi Manusia

Pembukaan oleh Phra Rajavaramuni Payutto
Penerima UNESCO Prize untuk Perdamaian Pendidikan 1994

Agama telah menjadi ada sebagai hasil dari perjuangan manusia untuk memecahkan masalah dasar kehidupan, yaitu penderitaan. "Jika tidak ada kelahiran, pembusukan dan kematian," kata Buddha, "Yang Tercerahkan mungkin tidak terjadi di dunia dan ajaran-ajarannya tidak akan menyebar di luar negeri." Dia juga menyatakan lagi dan lagi bahwa seorang Buddha muncul di dunia ini untuk kebaikan dan kebahagiaan dari banyak, karena kasihan bagi dunia, untuk keuntungan, untuk keuntungan dan untuk kebahagiaan para dewa dan manusia. Ini sama dengan pemberitaan Dharma, lastingness dari Dispensasi dan solidaritas Sangha. Jadi, sebagaimana nilai kedokteran terletak pada penyembuhan penyakit, sehingga nilai agama dipastikan oleh kemanjurannya dalam kemiskinan dan penghapusan penderitaan manusia.

Secara umum, ketika sebuah agama membantu orang untuk hidup bersama dalam damai dan membantu individu untuk berdamai dengan dirinya sendiri, dapat dikatakan telah memenuhi fungsinya. Namun, yang masih samar-samar gambar dari fungsi agama. Gambar akan menjadi lebih jelas hanya ketika kita melihat lebih dalam untuk melihat apa pandangan agama telah pada manusia dan penderitaan dan bagaimana hal itu berfungsi untuk mengurangi atau menghilangkan penderitaan itu.

Semua manusia dilahirkan sama, tetapi hanya dalam beberapa hal. Dalam hal lainnya, tidak ada orang yang lahir sama dengan laki-laki lain. Penganiayaan manusia, atau sikap yang salah terhadap, ini kesetaraan dan ketidaksetaraan telah menimbulkan segala macam masalah, dari sosial dengan yang rohani.

Menurut agama Buddha, semua manusia adalah sama dalam bahwa mereka semua tunduk pada hukum alam yang sama. Semua tergantung dari kelahiran, usia tua dan kematian. Hukum Karma adalah mengikat semua orang. Semua orang menuai apa yang ia menabur dan dunia terus terjadi setelah kegiatan Karma dikontribusikan oleh semua orang.

KESETARAAN GENDER DALAM AGAMA BUDDHA

MATERI KELAS IXSEMESTER GENAP

SK : Mengungkapkan peranan agama Buddha untuk meningkatkan martabat manusia
KD : Kesetaraan gender dalam agama Buddha

Coba Klik di SINI

Cara Meditasi

A. Hal-hal Yang Mendukung Meditasi

1.    Untuk dapat melaksanakanameditasi dengan berhasil, seseorang harus memperhatikan syarat meditasi sebagai berikut :

·         Memiliki keinginan yang kuat (tekad)
·         Memiliki moral yang baik (sila)
·         Sehat  jasmani dan batin 
·         Tempat yang tenang
·         Memiliki waktu senggang
·         Adanya guru pembimbing
·         Memiliki buku pedoman Meditasi (Kitab Suci)
·         Memiliki obyek meditasi yang sesuai dengan sifatnya
·         Saat bermeditasi posisi tubuh  rileks/santai
·         Suhu tempat meditasi yang sesuai
·         Memiliki teman yang bermoral.


MEDITASI

1.    Meditasi sama dengan Samadhi/Bhavana yang artinya memusatkan pikiran pada satu obyek meditasi.

2.    Sang Buddha mengajarkan Samadhi pertama kali pada saat  khotbah di Taman Rusa Isipatana disampaikan kepada Lima orang pertapa.

3.    Khotbah pertama Buddha dikenal dengan nama "Dhammacakkapavatthana Sutta" artinya khotbah pemutaran Roda Dhamma yang Pertama

4.    Dhammacakkapavatthana Sutta biasa disebut dengan Jalan Tengah (Majjhimapatipada = Delapan jalan utama) .

SOAL PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA SMP ULANGAN AKHIR SEMESTER SATU

Bagi siswa atau Ibu/Bapak guru yang membutuhkan Soal Pendidikan Agama Buddha SMP
Kelas Tujuh, Delapan, dan Sembilan.
Silahkan download dan klik di SINI

DASA AKUSALAKAMMAPATHA

Dasa Akusalakamma berasal dari kata Dasa artinya sepuluh, Akusala artinya tidak baik atau jahat, Kamma artinya perbuatan, Patha artinya jalan atau cara. Dasa Akusalakammapatha artinya sepuh cara berbuat jahat, terdiri dari :

DASA PUNNAKIRIYAVATTHU

Dasa Punnakiriyavatthu terdiri dari kata Dasa artinya sepuluh, Punna artinya manfaat/guna/baik, Kiriya artinya melakukan, dan vatthu artinya dasar/cara/hal. Jadi Dasa Punnakiriyavatthu artinya sepuluh cara untuk melakukan perbuatan baik/jasa. Sepuluh cara melakukan perbuatan baik terdiri dari:

HUKUM KAMMA

1. KAMMA

            Kamma(pali) dan Karma(Sansekerta) artinya perbuatan baik atau buruk yang dilakukan melalui pikiran, ucapan dan perbuatan badan jasmani yang disertai dengan niat/kemauan (cetana). Suatu perbuatan baru dapat disebut kamma/karma bila dilakukan dengan niat(cetana), apabila suatu perbuatan yang dilakukan tidak disertai dengan niat maka tidak disebut dengan kamma/karma. Berkenaan dengan Karma, Sang Buddha bersabda dalam Kitab Anguttara Nikaya III,415, sbb :

ETIKA PERGAULAN BUDDHIS

Pada dasarnya manusia adalah makluk sosial, saling bergantung satu sama lain. Selama paling kurang sepuluh tahun pertama dalam kehidupan kita, kita sangat tergantung pada orang tua kita, dan pada usia tua mereka akan berbalik tergantung pada kita. Kita bergantung pada guru-guru dalam hal pendidikan, pula dalam menyiapkan masa depan kita, sebaliknya mereka mungkin menggantungkan nafkahnya dengan membagi ilmu dan pengalamannya pada kita. Kita memiliki kawan-kawan dan dimiliki oleh kawan-kawan. Kita menjual keahlian kita pada para majikan yang usahanya tergantung pada kita sebagai para pekerjanya. Sebagian besar manusia akan kawin dan dengan pasangannya, mereka akan saling kasih mengasihi secara emosional dan seksual.

ETIKA DALAM PERGAULAN BUDDHIS


A. KALYANAMITTA
Kalyanamitta adalah sahabat sejati . Kita hendaknya dapat membedakan antara sahabat sejati dengan sahabat palsu. Ciri sahabat sejati adalah seorang sahabat yang senantiasa :
1. Siap dan mampu membantu kita dengan cara yang baik
2. Memiliki rasa simpati kepada kita baik didalam keadaan suka maupun duka
3. Menunjukkan hal-hal yang berguna kepada kita
4. Memiliki rasa persahabatan yang akrab