Pada dasarnya manusia adalah makluk sosial, saling bergantung satu sama lain. Selama paling kurang sepuluh tahun pertama dalam kehidupan kita, kita sangat tergantung pada orang tua kita, dan pada usia tua mereka akan berbalik tergantung pada kita. Kita bergantung pada guru-guru dalam hal pendidikan, pula dalam menyiapkan masa depan kita, sebaliknya mereka mungkin menggantungkan nafkahnya dengan membagi ilmu dan pengalamannya pada kita. Kita memiliki kawan-kawan dan dimiliki oleh kawan-kawan. Kita menjual keahlian kita pada para majikan yang usahanya tergantung pada kita sebagai para pekerjanya. Sebagian besar manusia akan kawin dan dengan pasangannya, mereka akan saling kasih mengasihi secara emosional dan seksual.
SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA BUDDHA DI INDONESIA
A. SRIWIJAYA
1. Kerajaan Sriwijaya sekarang diperkirakan terletak disekitar kota Palembang, Sumatra selatan
2. Kerajaan ini didirikan sekitar abad ke VII, para Raja di kerajaan ini umumnya menganut agama Buddha, hal ini dapat dilihat dari catatan bahwa di ibukota terdapat Perguruan Tinggi agama Buddha.
3. Di Perguruan tinggi ini banyak bhikkhu yang belajar agama dan ilmu pengetahuan lainnya.
4. Di Kerajaan ini tinggal seorang pujangga yang sangat terkenal yaitu Dharmapala dan sakyakirti yang sempat belajar di Perguruan tinggi ini.
5. Agama Buddha di Sriwijaya juga diberitakan oleh seorang pemuda dari daratan China bernama Itsing.
6. Itsing datang ke Sriwijaya pada tahun 671, setelah ia berziarah ke India. Itsing tinggal di sriwijaya selama 6 bulan sebelum ia kembali lagi ke India.
7. Untuk kedua kalinya Itsing datang kembali ke Sriwijaya pada tahun 688 dan menetap selama 7 tahun.
8. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Itsing para bhikkhu yang belajar berjumlah 1.000 orang.
TEKAD DAN SEMANGAT PANGERAN SIDDHARTA UNTUK MENJADI BUDDHA
Pangeran
Siddharta adalah putra tunggal Raja Suddhodana dan Ratu Mahamaya Dewi. Ratu
Mahamaya meninggal dunia ketika anaknya berusia
1 minggu atau 7 hari, lalu
Pangeran Siddharta diasuh dan dibesarkan oleh bibinya yang bernama Pajapati
Gotami. Sekalipun Pangeran Siddharta merupakan putra tunggal, ia tidak sombong
dan tidak tinggi hati, Ia adalah anak yang
sangat baik dan selalu berendah hati kepada siapa saja. Pangeran Siddharta
sejak kecil memiliki cinta kasih dan belas kasihan yang tinggi terhadap semua
makhluk. Contohnya : P. Siddharta
menolong burung belibis yang dipanah oleh Dewadatta, setelah diobati burung
tersebut dilepas kembali.
TEMPAT KEBAKTIAN AGAMA BUDDHA
Kebaktian atau upacara keagamaan yang dilakukan
oleh umat Buddha dengan corak ragam yang berbeda-beda bila diteliti memiliki
makna yang sama. Sesuatu yang disebut upacara keagamaan atau kebaktian akan
diterima oleh umat untuk dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan sekaligus
menjadi kebutuhan hidup batinnya. Oleh karena itu akan menjadi salah satu
kebiasaan hidupnya, yang sering dilakukan.
Dalam semua bentuk upacara agama Buddha, sebenarnya terkandung
prinsip-prinsip :
RIWAYAT HIDUP PANGERAN SIDDHARTA
Pada zaman dahulu lebih dari 2.500 tahun yang lampau di India bagian utara terdapat sebuah kerajaan yang bernama Kapilawastu dipimpin oleh seorang Raja bernama Suddhodana dan Ratunya bernama Mahamaya. Raja Suddhodana bersala dari suku Sakya sedangkan Ratu Mahamaya berasal dari suku Koliya. Sakya beribukota Kapilawastu.
Meskipun Raja Suddhodana dan Ratu Mahamaya sudah lama menikah namun anak yang mereka dambakan belum juga diperolehnya. Pada suatu malam ketika Ratu sedang tidur ia bermimpi yang sangat aneh sekali yaitu seekor gajah berwarna putih, bertaring tiga dan di ujungnya terdapat bunga teratai yang bercahaya terang. Seekor gajah tersebut mengelilingi tempat tidur Ratu tiga kali putaran untuk kemudian memasuki perut Ratu dari sebelah kanan.
MASA PEMBABARAN DHAMMA SANG BUDDHA
1. Setelah mencapai penerangan sempurna, untuk pertama kalinya Sang Buddha membabarkan dhamma kepada lima orang pertapa yaitu Kondanna, Mahanama, Bhadiya, Vappa, Assaji.
2. Sang Buddha membabarkan dhamma atas permintaan Brahma Sahampati, karena mengetahui bahwa Sang Buddha ragu ada makhluk yang mampu atau tidak untuk mendengarkan dhammanya mengingat bahasa yang digunakan terlalu analitis.
LAMBANG-LAMBANG DALAM AGAMA BUDDHA
1. Buddha Rupang, Bunga, Lilin, Air, Dupa
a. Buddha Rupang.
Simbol dari ketenangan batin seseorang. Buddha rupang bukan berhala yang harus disembah oleh umat Buddha, namun Buddha rupang adalah simbol dari ketenangan batin.
Bunga.
Simbol dari ketidak-kekalan. Bunga segar yang diletakkan di altar setelah berganti waktu dan hari akan menjadi layu. Begitu pula dengan badan jasmani kita, suatu waktu kelak pasti akan menjadi tua, sakit, lapuk akhirnya meninggal.
Langganan:
Postingan (Atom)





