Terkemuka dalam Menjaga Sila
Enam
Bangsawan muda Sakya yaitu Ananda, Anuruddha, Bhaddiya, Bhagu, Devadatta dan Kimbila memutuskan bersama untuk menjadi siswa Sang Buddha. Ketika mereka meninggalkan Kapilavatthu, ibu kota kerajaan Sakya, mereka diiringi dengan rombongan besar kereta, gajah dan sejumiah pelayan untuk melayani mereka dalam perjalanan. Di perbatasan antara kerajaan Sakya dan kerajaan Magadha, mereka mengirim seluruh kereta kembali ke Kaplivatthu, dan yang tinggal bersama mereka hanyalah Upali, tukang cukur mereka.
Yang Ariya Anuruddha
Terkemuka dalam Mata Dewa
Sesaat sebelum mencapai Parinibbana, Sang Buddha menyampaikan kata-kata terakhir Beliau, "O Bhikkhu dengarkanlah baik-baik nasihatku : Segala sesuatu yang terdiri atas paduan unsur-unsur akan hancur kembali. Karena itu berjuanglah dengan sungguh-sungguh". Setelah itu Sang Buddha memasuki Jhana kesatu, lalu Jhana kedua, ketiga, keempat. Kemudian memasuki keadaan 'Ruang Tak Terbatas', kemudian 'Kesadaran Terbatas', keadaan 'Kosong', keadaan 'Bukan Pencerapan pun Bukan Pencerapan' kemudian mencapai 'Penghentian Pencerapan dan Perasaan'.
Sesaat sebelum mencapai Parinibbana, Sang Buddha menyampaikan kata-kata terakhir Beliau, "O Bhikkhu dengarkanlah baik-baik nasihatku : Segala sesuatu yang terdiri atas paduan unsur-unsur akan hancur kembali. Karena itu berjuanglah dengan sungguh-sungguh". Setelah itu Sang Buddha memasuki Jhana kesatu, lalu Jhana kedua, ketiga, keempat. Kemudian memasuki keadaan 'Ruang Tak Terbatas', kemudian 'Kesadaran Terbatas', keadaan 'Kosong', keadaan 'Bukan Pencerapan pun Bukan Pencerapan' kemudian mencapai 'Penghentian Pencerapan dan Perasaan'.
Yang Ariya Rahula
Terkemuka dalam Kebaikan
Pada hari ketujuh setelah Sang Buddha kembali ke Kapilavatthu, Puteri Yasodhara mendandani Pangeran Rahula dengan pakaian yang bagus dan mengajaknya kejendela. Dari jendela itu mereka dapat melihat Sang Buddha sedang makan siang. Puteri Yasodara kemudian bertanya kepada Rahula, "Anakku, tahukah engkau siapa orang itu?" Rahulu menajwab, "Beliau adalah Sang Buddha, ibu". Yasodhara tak dapat menahan air matanya yang menitik keluar dan berkata, "Anakku, petapa yang kulitnya kuning keemasan dan tampak seperti Brahma dikelilingi oleh ribuan muridnya adalah ayahmu. Beliau punya banyak harta pusaka. Pergilah kepadanya dan mintalah Harta pusaka untukmu". Pangeran Rahula yang masih kecil itu kemudian pergi mendekati Sang Buddha dan sambil memegang jari tangan Sang Buddha mengatakan apa yang dipesankan ibunya. Kemudian ia menambahkan "Ayah, bahkan bayangan ayah membuat hatiku senang".
Pada hari ketujuh setelah Sang Buddha kembali ke Kapilavatthu, Puteri Yasodhara mendandani Pangeran Rahula dengan pakaian yang bagus dan mengajaknya kejendela. Dari jendela itu mereka dapat melihat Sang Buddha sedang makan siang. Puteri Yasodara kemudian bertanya kepada Rahula, "Anakku, tahukah engkau siapa orang itu?" Rahulu menajwab, "Beliau adalah Sang Buddha, ibu". Yasodhara tak dapat menahan air matanya yang menitik keluar dan berkata, "Anakku, petapa yang kulitnya kuning keemasan dan tampak seperti Brahma dikelilingi oleh ribuan muridnya adalah ayahmu. Beliau punya banyak harta pusaka. Pergilah kepadanya dan mintalah Harta pusaka untukmu". Pangeran Rahula yang masih kecil itu kemudian pergi mendekati Sang Buddha dan sambil memegang jari tangan Sang Buddha mengatakan apa yang dipesankan ibunya. Kemudian ia menambahkan "Ayah, bahkan bayangan ayah membuat hatiku senang".
Yang Ariya Ananda
Pembantu Tetap Sang Buddha dan Bendahara Dhamma
Pada suatu ketika dalam suatu pertemuan para bhikkhu
di Rajagaha, Sang Buddha yang saat itu berusia lima puluh lima tahun
menyinggung tentang perlunya ditunjuk seorang pembantu tetap untuk
diriNya. Semua siswa utama seperti YA Sariputta dan YA Moggallana
menawarkan diri untuk menjadi pembantu tetap namun semuanya ditolak oleh
Sang Buddha. Para bhikkhu kemudian menganjurkan Ananda yang selama itu
berdiam diri saja untuk memohon kepada Sang Buddha untuk dapat diterima
sebagai pembantu tetap. Ananda mengatakan, "Kalau Sang Bhagava memang
memerlukan Ananda sebagai Pembantu Tetap, Sang Bhagava boleh
mengatakannya". Kemudian Sang Buddha berkata, "Ananda, jangan membiarkan
orang lain menganjurkan engkau untuk memohon pekerjaan tersebut. Atas
kemauan sendiri engkau dapat menjadi Pembantu Tetap Sang Buddha".
YA. MOGALLANA
Terkemuka dalam Kekuatan Gaib
Setelah memperoleh kekuatan gaib setelah berlatih dengan tekun di bawah bimbingan Sang Buddha, YA Moggallana menggunakan kekuatannya itu untuk mencari di mana ibunya terlahir kembali dan mencoba untuk membalas budi kepada ibu yang mengasuhnya hingga dewasa. Setelah menyelidiki, ditemukanlah bahwa ibunya terlahir kembali di alam neraka dan amat menderita. Melihat hal itu, YA Moggallana segera menggunakan kekuatan gaibnya mengirimkan makanan kepada ibunya. Tetapi pada saat ibunya mencoba memasukkan makanan ke mulutnya, makanan itu terbakar menjadi nyala api dan menyebabkan penderitaan yang lebih hebat dari sebelumnya.
Setelah memperoleh kekuatan gaib setelah berlatih dengan tekun di bawah bimbingan Sang Buddha, YA Moggallana menggunakan kekuatannya itu untuk mencari di mana ibunya terlahir kembali dan mencoba untuk membalas budi kepada ibu yang mengasuhnya hingga dewasa. Setelah menyelidiki, ditemukanlah bahwa ibunya terlahir kembali di alam neraka dan amat menderita. Melihat hal itu, YA Moggallana segera menggunakan kekuatan gaibnya mengirimkan makanan kepada ibunya. Tetapi pada saat ibunya mencoba memasukkan makanan ke mulutnya, makanan itu terbakar menjadi nyala api dan menyebabkan penderitaan yang lebih hebat dari sebelumnya.
YANG ARIYA SARIPUTTA
Terkemuka dalam Kebijaksanaan
Pada suatu pagi Sariputta melihat YA Assaji, salah seorang bhikkhu siswa pertama Sang Buddha sedang menerima dana makanan di Rajagaha. Ia sangat terkesan melihat penampilan YA Assaji yang damai dan agung. Ia berpikir bahwa pastilah bhikkhu itu telah mencapai arahat. Ketika YA Assaji selesai makan, ia mendekati dan memberi salam untuk kemudian bertanya siapakah guru beliau dan ajaran apakah yang diajarkan oleh gurunya itu. YA Assaji memberi tahukan bahwa gurunya adalah Sang Buddha Gotama dan bahwa beliau tidak dapat menerangkan ajaran tersebut secara panjang lebar karena belum lama menjadi bhikkhu tetapi dapat menjelaskan artinya secara singkat. Kemudian beliau mengucapkan syair berikut:
Pada suatu pagi Sariputta melihat YA Assaji, salah seorang bhikkhu siswa pertama Sang Buddha sedang menerima dana makanan di Rajagaha. Ia sangat terkesan melihat penampilan YA Assaji yang damai dan agung. Ia berpikir bahwa pastilah bhikkhu itu telah mencapai arahat. Ketika YA Assaji selesai makan, ia mendekati dan memberi salam untuk kemudian bertanya siapakah guru beliau dan ajaran apakah yang diajarkan oleh gurunya itu. YA Assaji memberi tahukan bahwa gurunya adalah Sang Buddha Gotama dan bahwa beliau tidak dapat menerangkan ajaran tersebut secara panjang lebar karena belum lama menjadi bhikkhu tetapi dapat menjelaskan artinya secara singkat. Kemudian beliau mengucapkan syair berikut:
KRITERIA UMAT BUDDHA
Download Powerpoint Materi SMP kelas VII semester I
Standar Kompetensi : 1. Memahami komponen dan kriteria agama Buddha
Kompetensi Dasar : 1.3 Mengidentifikasikan kriteria agama Buddha dan umat Buddha
Langganan:
Postingan (Atom)